Eid Adha: Berbagi Tak Mesti Nanti

Published Agustus 27, 2018 by Rabiatul Adawiyah

Sepuluh menit sebelum shalat Id, seorang nenek masuk dari arah depan, antara tabir pembatas jamaah. Dan, mencari syaf kosong. Karena shalat akan segera dilaksanakan maka tak ada lagi celah, dan Nenek tersebut membuat syaf sendiri di depan syaf pertama. Seseorang langsung protes, “Gak boleh di situ, Nek.” Yang lain menimpali,” Jangan di situ, Nek.” Lalu si nenek menjawab, “Jadi di mana? Gak ada yang kosong.” Nenek tak mengindahkan kata-kata orang yang melarangnya. Dia tetap menggelar sajadahnya.

Baca selengkapnya →

Iklan

Online Test AM PT. Telkom

Published Agustus 21, 2018 by Rabiatul Adawiyah

Beberapa hari lalu, sebelum tidur saya cek e-mail. Masuk satu notifikasi dari Rekrutmen Telkom. Saya lihat infonya, tersedia satu job vacancy. Lihat waktu, ah, nyaris saya apply di detik-detik terakhir. Masuk syukur, nggak ya udah. It’s ok. Sekadar mencoba apa salahnya, pikir saya.

Hari setelah apply, saya melupakan semua tentang lamaran kerja itu. Sampai pada suatu pagi, saya kembali mendapat notifikasi e-mail dari pihak Telkom menyatakan saya terpilih untuk mengikuti tahapan seleksi selanjutnya, yaitu online test. Selain bersyukur, saya sempat tertawa sendiri. Memang tidak ada yang lucu, tapi mengingat bagaimana proses saya mendaftar saya merasa there was something that something. Saya screen shoot e-mail tersebut dan saya kirim kepada seorang teman. Saya bilang, ‘Lihat ini. Saya aja gak ngerti posisinya apa. Account Manager (AM).’ Tak lupa saya bubuhi emoticon ngakak. Lalu teman saya membalas ‘Semangat. Ikuti saja. Entar waktu interview jelaskan secara umum.’ Ok. Saya ikuti.

Baca selengkapnya →

5. Pergi

Published Juli 14, 2018 by Rabiatul Adawiyah

Karena cinta bukan sekadar kata-kata

 

“Yasmin, saya ingin katakan sesuatu.”

Pesan dari Hannan.

Yasmin mengecek waktu pengiriman. Sudah dua hari pesan itu masuk ke inbox facebook-nya. Berhari-hari Yasmin memang tidak login ke jejaring sosial. Intensitas chat dengan Hannan berkurang, semenjak Hannan berterus terang atas perasaannya, gadis berkerudung itu seperti menjaga jarak. Jika ada kesempatan, perbincangan tak pernah lama. Saling sapa, tanya kabar, selesai. Perubahan dirasa begitu kentara. Yasmin sempat menyesali kejujuran Hannan. Ruang canggung antara mereka ada karena kejujuran Hannan.  Andai saja dia bisa menyembunyikan perasaan itu, mungkin mereka akan baik-baik saja. Namun, kejujuran Hannan bukan sesuatu yang bisa dinilai salah. Baca selengkapnya →

Memperbaiki Naskah Sebelum Masuk Dapur Cetakan

Published Juli 8, 2018 by Rabiatul Adawiyah

Tidak ada pekerjaan yang bisa dianggap enteng jika ingin hasilnya layak disebut sangat baik, termasuk editing. Banyaknya ejaan baru atau perubahan pada kosa-kata lama membuat saya agak kesulitan meski berpegang ‘teguh’ pada KBBI. Lain lagi secara tak sengaja bahasa sehari-hari nyelip tanpa memberi perbedaan antara kata formal dan tidak formal, menjadi PR tambahan dalam proses memperbaiki tulisan. Baca selengkapnya →

4. Janji

Published Juni 26, 2018 by Rabiatul Adawiyah

Akan kutepati setiap kata yang menjadi janji

 

Semilir angin menyelinap melalui jendela kamar. Seketika hawa panas sirna. Yasmin tersadar dari tidurnya. Dia mengucek-ucek mata, berusaha mengusir rasa kantuk yang masih membebani kedua kelopak matanya. Cahaya matahari sore jatuh tepat di wajahnya lewat ventilasi jendela berbentuk vertikal membuat dia semakin sulit membuka mata secara sempurna.

Kembali angin berembus, menyingkap sebagian gorden jendela. Kedua mata Yasmin langsung melihat pemandangan yang selalu menerbitkan senyum di wajahnya. Bunga angsana. Musim semi hampir usai, lirihnya. Bunga-bunga angsana tidak lagi serimbun seperti bulan sebelumnya, April. Ini pertengahan Mei, bunga-bunga mungil berwarna kuning itu siap mengakhiri musimnya. Baca selengkapnya →

Untuk Pembaca

Published Juni 1, 2018 by Rabiatul Adawiyah

Untuk pembaca setia saya, 😊😀 maaf, dalam beberapa waktu cerita Yasmin belum bisa saya terbitkan. Saat ini sedang proses penyelesaian Bab-Bab akhir (30-33). Insya Allah ba’da Ramadhan bisa dibaca kelanjutannya.

Selamat berpuasa. 😇😇😇

3. Senandung dari Nil

Published Mei 21, 2018 by Rabiatul Adawiyah

Kadang hati harus merahasiakan cinta
Dan, itu tidak salah

Hannan bergegas menaiki anak tangga flat. Kamarnya berada di lantai tiga. Langkah Hannan terburu seolah ada yang mengejar. Di ambang pintu, dengan napas satu-satu dia mengucapkan salam. Pintu dibuka. Tariq menyahut pelan. “Wa’alaikum salam. Tumben cepat pulang?”

“Iya, udah selesai,” Hannan menjawab sekenanya sambil mengedar pandangan ke sekitar. Ada Firdaus dan Rinaldi. Mereka tidak ke kampus.

Keluarga kecil di flat lengkap. Semua fokus pada urusan masing-masing. Tariq bertemankan laptop, Firdaus dan Rinaldi bersama kitab-kitab tebal mereka. Ada empat penghuni flat, termasuk Hannan. Semua mahasiswa Al Azhar dari Indonesia. Tariq dari Bogor, Rinaldi urang awak, Padang, Hannan dan Firdaus asli penduduk Aceh sejak lahir.

Dari awal tinggal di Mesir, Hannan memilih flat sebagai tempat tinggal. Pertemuannya dengan Tariq dan Rinaldi berawal ketika tahsin bersama Syeikh Abdul Qadir di Masjid Sayyidina Husein. Mereka bilang sedang mencari kontrakan maka Hannan berniat mengajak keduanya tinggal satu flat, yang jaraknya tidak jauh dari kampus Al Azhar. Sebelumnya Hannan hanya bersama Firdaus. Walau flat mereka masuk kategori flat kecil karena harga sewa sesuai kantong mahasiswa, namun tetap dirasa nyaman selagi menjunjung tinggi baiti jannati, rumahku surgaku. Baca selengkapnya →