Quote: Novel “The Kite Runner” Karya Khaled Hosseini

Published Februari 24, 2019 by Rabiatul Adawiyah

Tiba-tiba aku mendengar bisikan Hassan di kepalaku: Untukmu, keseribu kalinya, Hassan, si pengejar layang-layang berbibir sumbing.

Hassan tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Bahkan saat kami tengah bermain…

Adalah Khaled Hosseini seorang penulis berkebangsaan Afghanistan-AS kembali mengingatkan saya pada Selimut Debu karya Agustinus Wibowo: Di sini semua mahal. Yang murah cuma satu: nyawa manusia. Begitulah gambaran sebuah negeri di Asia Selatan bernama Afghanistan. Hal bermakna selaras saya temukan di The Kite Runner: Afghanistan memang sebuah tempat di mana harapan tak lagi ada.

The Kite Runner merupakan novel perdana Khaled, dan berhasil menduduki New York Times Bestseller, terjual lebih dari delapan juta kopi di seluruh dunia, diterjemahkan ke dalam 42 bahasa, dan telah difilmkan oleh Paramount Pictures. Versi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Berliani M. Ngurahani. Saya beri nilai sempurna untuk penerjemah dan editor. Membaca The Kite Runner, saya seperti tidak sedang membaca buku terjemahan. Tidak ada satu kalimat yang harus saya baca berulang kali untuk memahami maksudnya. Berliani berhasil mentransfer makna bahasa sumber ke bahasa target dengan sangat baik. Tidak semua penerjemah mampu melakukan hal ini. Baca selengkapnya →

Iklan

Bicara Buku

Published Januari 13, 2019 by Rabiatul Adawiyah

Punya hobi baca sejak bisa membaca. Sampai sekarang saya tidak menghitung berapa buku yang sudah berhasil dibaca selama belasan tahun. Saya yakin masih sangat sedikit. Koleksi bacaan pertama adalah majalah Bobo. Bagian paling menyenangkan adalah cerita keluarga Bobo. Ada Bobo, Tiut Tiut, Tompel, Paman Gembul, Cimut, Upik, Dung Dung, Bapak, Lobi Lobi, Simpul, Coreng dan Emak. Selain itu, ada juga cerita Paman Kikuk, Husin dan Asta. Saya suka mentertawai tingkah Paman Kikuk. Konyol tapi baik. Tidak lupa Cerita dari Negeri Dongeng menjadi pilihan yang mendapat perhatian selanjutnya. Terakhir cerita Bona dan Rong Rong. Sekarang usia tidak lagi anak-anak, tapi kalau ketemu majalah ini saya akan beli. Saya suka gambarnya yang warna-warni. Baca selengkapnya →

Tentang Kita #6

Published Januari 11, 2019 by Rabiatul Adawiyah

Kota Sepi Nyaris Mati: Awal 2015

“Hai!”

Seperti biasa kau menyapa tanpa senyum. Ah, sial kenapa aku masih ingat kebiasaanmu?!

“Ya.”

Perbincangan sangat singkat terjadi sebelum kita memulai makan malam yang sengaja kita rencanakan. Tidak tahu untuk apa. Jelas kali ini jauh dari kesan istimewa. Kurasa untuk melebur rindu. Menyamarkan benci. Meredam amarah. Mengubur kecewa. Namun, semua seolah angan belaka. Nyatanya hati kita masih diselimuti rasa yang entah apa. Sulit dicerna. Kita seperti orang asing, enggan buka suara. Baca selengkapnya →

Tentang Kita #5

Published Januari 6, 2019 by Rabiatul Adawiyah

Kota Lahirmu: Desember 2014

Ini akhir dari segala yang kuusahakan selalu baik.

Duniaku berputar, samar, lalu luruh dalam ketiadaan. Cahaya tak lagi berpendar. Semua hilang dalam sekali telan.

Mampus kau dikoyak-koyak sepi. (Khairil Anwar) Baca selengkapnya →

Quote: Novel “Athirah” karya Albertheine Endah

Published Januari 4, 2019 by Rabiatul Adawiyah

“… membuka mata dan hati kita, bahwa Ibu adalah kunci keutuhan sebuah keluarga.” _Mira Lesmana

“Athirah” adalah buku pertama yang berhasil saya baca di awal tahun ini, 2019. Emma (ibu) begitu anak-anak memanggil Athirah, istri Haji Kalla, ibunda wakil presiden Indonesia saat ini, Jusuf Kalla.

Saya melihat sosok Athirah adalah wanita sempurna dalam ketidaksempurnaan. Dan, Haji Kalla sebagai seorang laki-laki yang sebaliknya. Dari sini saya berpendapat bahwa benar tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun, di dalam ketidaksempurnaan tersebut bisa ditemukan kesempurnaan.

Buku setebal 404 halaman dan masuk kategori novel biografi ini tidak membuat saya bosan membacanya. Albertheine sangat piawai menyusun kalimat. Saya bertemu diksi-diksi ‘lembut’ di setiap paragraf. Dan, “Athirah” adalah karya  Albertheine Endah kedua yang saya baca. Sebelumnya “Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar”.

Kembali ke judul tulisan ini: quote, maka berikut adalah kutipan dari novel “Athirah”: Baca selengkapnya →

Tentang Kita #4

Published Desember 30, 2018 by Rabiatul Adawiyah

“Mau makan apa?” tanyamu ketika masuk ke salah satu ruko (rumah toko) berlantai dua yang kanan-kirinya adalah deretan ruko percetakan dan rental komputer menjual berbagai macam alat tulis kantor.

“Bakso mi putih,” jawabku sambil mengedar pandangan ke sekeliling mencari tempat paling nyaman untuk menikmati semangkuk bakso di ‘Warung Bakso Mas Sigit’ depan pintu satu kampus. Sementara, kau menyebutkan menu pesanan ke pemilik warung. Orangnya masih sama. Tapi aku tak yakin dia mengenali kami sebagai pelanggan setia selama hampir delapan tahun.

Baca selengkapnya →

Tentang Kita #3

Published Desember 28, 2018 by Rabiatul Adawiyah

Kota lahirmu: Penghujung 2018

Ponselku berbunyi. Nomormu memanggil.

“Sudah di mana?”
“Di jalan.”
“Kalau sudah di Binjai kabari ya.”

Perjalanan dari kota lahirku ke Binjai, kota antara kota lahirku dan kota lahirmu, adalah satu jam dengan menggunakan mini bus, namanya Timtax. Mobil Kijang dan Panther berwarna biru langit disulap menjadi angkutan umum antar kota andalan kami. Efisiensi alasannya, meski kadang harus susun gembung. Tiap baris kursi maksimal empat orang. Syukur kalau penumpangnya kurus, masih bisa tarik napas. Kalau penumpangnya jumbo malah bikin tahan napas. Sesak. Baca selengkapnya →